Stress Karena Pekerjaan
Aktivitas di rumah tangga yang tiada habisnya, pekerjaan menumpuk yang
perlu segera di selesaikan merupakan hal-hal yang umumnya membuat orang merasa
tertekan. Banyak hal di sekeliling kita yang bisa memicu kecemasan dan stress.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa stress dari pekerjaan meningkatkan
risiko serangan jantung sebesar 23%. Studi ini menunjukkan bahwa 7% dari mereka
yang disurvei sedemikian stress sehingga memiliki pikiran bunuh diri dan 18%
mengembangkan gangguan kecemasan.
Stress umumnya mendorong orang untuk minum (alkohol) dan menggunakan
obat-obatan, karena mereka pikir hal itu akan membantu mereka mengatasinya.
Menurut penelitian ini, hampir 3 dari 5 orang (57%), minum setelah bekerja dan
1 dari 7 minum selama bekerja untuk membantu mengatasi stress.
Cara lain yang digunakan orang untuk mencoba mengatasi stress adalah :
·
Merokok – 28%
·
Mengambil antidepresan – 15%
·
Mengambil pil tidur non-resep -16%
·
Mengambil pil tidur yang diresepkan – 10%
Temuan penting lainnya :
·
Satu dari lima orang mengambil cuti sakit karena stress
tetapi memberikan alasan yang berbeda untuk ketidakhadiran mereka.
·
Satu dari 10 telah mengundurkan diri karena stress.
·
Satu dari lima orang mengatakan mereka tidak berani
memberitahu manajer mereka bahwa mereka terlalu stress.
·
Dari 22 persen yang memiliki masalah kesehatan mental terdiagnosis, kurang dari
setengahnya telah memberitahu atasan mereka tentang diagnosis tersebut.
Kepala eksekutif Mind,Paul Farmer, mengatakan masalah kesehatan
mentalterkait pekerjaan adalah masalah yang terlalu penting bagi bisnis untuk
diabaikan. Penelitian kami menunjukkan bahwa karyawan masih mengalami tingkat stress
yang tinggi di tempat kerja, yang berdampak negatif bagi kesehatan fisik dan
mental. Kita tahu sekarang bahwa satu dari enam pekerja mengalami depresi, stress
atau kecemasan dan survei kami memberitahu kita bahwa sebagian besar manajer
tidak merasa bahwa mereka memiliki pelatihan yang cukup atau bimbingan yang
mendukung mereka.
Aturan jam kerja yang fleksibel dan cuti tahunan yang leluasa mendukung
kesejahteraan mental karyawan. Tiga dari lima orang mengatakan bahwa jika
perusahaan mengambil tindakan untuk mendukung kesejahteraan mental semua
karyawan, mereka akan lebih loyal, termotivasi, berkomitmen dan cenderung
untuk merekomendasikan tempat kerja mereka sebagai tempat yang baik untuk
bekerja.
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar