Minggu, 06 Maret 2016

Stress Karena Pekerjaan

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Stress Karena Pekerjaan

Stress Karena Pekerjaan

Aktivitas di rumah tangga yang tiada habisnya, pekerjaan menumpuk yang perlu segera di selesaikan merupakan hal-hal yang umumnya membuat orang merasa tertekan. Banyak hal di sekeliling kita yang bisa memicu kecemasan dan stress.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa stress dari pekerjaan meningkatkan risiko serangan jantung sebesar 23%. Studi ini menunjukkan bahwa 7% dari mereka yang disurvei sedemikian stress sehingga memiliki pikiran bunuh diri dan 18% mengembangkan gangguan kecemasan.
Stress umumnya mendorong orang untuk minum (alkohol) dan menggunakan obat-obatan, karena mereka pikir hal itu akan membantu mereka mengatasinya. Menurut penelitian ini, hampir 3 dari 5 orang (57%), minum setelah bekerja dan 1 dari 7 minum selama bekerja untuk membantu mengatasi stress.
Cara lain yang digunakan orang untuk mencoba mengatasi stress adalah :
·         Merokok – 28%
·         Mengambil antidepresan – 15%
·         Mengambil pil tidur non-resep -16%
·         Mengambil pil tidur yang diresepkan – 10%
Temuan penting lainnya :
·         Satu dari lima orang mengambil cuti sakit karena stress tetapi memberikan alasan yang berbeda untuk ketidakhadiran mereka.
·         Satu dari 10 telah mengundurkan diri karena stress.
·         Satu dari lima orang mengatakan mereka tidak berani memberitahu manajer mereka bahwa mereka terlalu stress.
·         Dari 22 persen yang memiliki masalah kesehatan mental terdiagnosis, kurang dari setengahnya telah memberitahu atasan mereka tentang diagnosis tersebut.
Kepala eksekutif Mind,Paul Farmer, mengatakan masalah kesehatan mentalterkait pekerjaan adalah masalah yang terlalu penting bagi bisnis untuk diabaikan. Penelitian kami menunjukkan bahwa karyawan masih mengalami tingkat stress yang tinggi di tempat kerja, yang berdampak negatif bagi kesehatan fisik dan mental. Kita tahu sekarang bahwa satu dari enam pekerja mengalami depresi, stress atau kecemasan dan survei kami memberitahu kita bahwa sebagian besar manajer tidak merasa bahwa mereka memiliki pelatihan yang cukup atau bimbingan yang mendukung mereka.
Aturan jam kerja yang fleksibel dan cuti tahunan yang leluasa mendukung kesejahteraan mental karyawan. Tiga dari lima orang mengatakan bahwa jika perusahaan mengambil tindakan untuk mendukung kesejahteraan mental semua karyawan, mereka akan lebih loyal, termotivasi, berkomitmen dan  cenderung untuk merekomendasikan tempat kerja mereka sebagai tempat yang baik untuk bekerja.


Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar