Minggu, 06 Maret 2016

Wanita Rentan Gangguan Mental

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Wanita Rentan Gangguan Mental

Wanita Rentan Gangguan Mental

Serangan jantung merupakan suatu keadaan dimana terdapat penyempitan pembuluh darah koroner sehingga menggangu aliran darah ke otot jantung dan otot jantung mengalami kerusakan atau gangguan fungsi.
Serangan jantung lebih banyak menyerang pria, tetapi lebih banyak berakibat kematian pada wanita. Lebih lanjut, pada wanita yang selamat dari serangan jantung, mereka rentan untuk menderita gangguan mental yang lebih parah.
Sebuah penelitian baru-baru ini dilakukan di Lithuania terhadap 160 pasien yang selamat dari serangan jantung di Vilnius University Hospital. Sebulan setelah serangan jantung, peneliti menganalisis data mengenai jenis kelamin, usia, riwayat medis, kebiasaan merokok dan olahraga peserta penelitian. Para peneliti juga mengukur status kesehatan mental mereka dengan Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) untuk mengetahui apakah peserta menderita gangguan depresi atau kecemasan. Skor 0-7 menunjukkan tidak ada depresi atau kecemasan, sedangkan skor 8-10 menunjukkan potensi depresi atau kecemasan. Skor 11 ke atas menunjukkan depresi atau kecemasan ringan sampai sedang.
Wanita lebih tinggi
Sementara pria memiliki skor depresi rata-rata 6,87, rata-ratanya pada wanita adalah 8,66. Untuk kecemasan, pria memiliki skor rata-rata 7,18 dan wanita memiliki skor rata-rata 8,20. Terlepas dari jenis kelamin, peserta penelitian yang depresi hampir enam kali lebih mungkin untuk meninggal dalam enam bulan setelah serangan jantung dibandingkan dengan pasien yang tidak depresi.
Studi kami menunjukkan bahwa perempuan lebih sering terkena gangguan kecemasan dan depresi yang lebih parah dibandingkan laki-laki, tetapi sampai sekarang masalah ini sebagian besar tidak diketahui, jelas ketua peneliti Pranas Serpytis pada kongres European Society of Cardiology (ESC), di mana dia mempresentasikan hasil penelitian. Depresi berat pasca serangan jantung terjadi pada sekitar 18 persen kasus dan merupakan prediktor penting kecacatan dan penurunan kualitas hidup di tahun-tahun setelah serangan jantung, lanjutnya.
Merokok dan olahraga
Selain itu, merokok tampaknya meningkatkan risiko kecemasan, sedangkan kurang olahraga meningkatkan risiko depresi. Rata-rata skor HADS untuk kecemasan di antara pasien perokok adalah 10,16, dibandingkan dengan skor rata-rata 7,3 pada pasien yang tidak pernah merokok dan 4,55 pada pasien yang berhenti merokok lebih dari dua tahun sebelumnya. Tidak ada hubungan yang ditemukan antara merokok dan depresi setelah serangan jantung. Rata-rata skor HADS untuk depresi pada pasien yang tidak aktif secara fisik adalah 8,96.
Studi ini menunjukkan bahwa mendorong pasien untuk berhenti merokok dan meningkatkan aktivitas fisik dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan dan depresi setelah serangan jantung. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meneliti hubungan antara serangan jantung dan masalah kesehatan mental.

Depresi merupakan salah satu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa tidak berharga, merasa kosong, dan tidak ada harapan, berpusat pada kegagalan dan menuduh diri, dan sering disertai iri dan pikiran bunuh diri, klien tidak berminat pada pemeliharaan
Depresi memang bukanlah kasus yang jarang. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), depresi adalah penyakit utama keempat di dunia. Riset di negara-negara maju menunjukkan bahwa sekitar satu dari empat wanita dan satu dari 10 laki-laki pernah memiliki minimal satu episode depresi berat dalam hidup mereka. Ancaman depresi meningkat pada mereka yang berusia remaja atau paruh baya (40-45 tahun), baru bercerai atau berpisah, kehilangan pekerjaan, hidup di kota, mencandu alkohol atau narkoba, dan memiliki riwayat keluarga penderita gangguan depresi. Namun tidak seorang pun bisa terhindar dari bahaya depresi. Terbukti bahwa ketenaran, kekayaan, keluarga yang utuh, pekerjaan, dll tidak bisa mencegah seseorang untuk mengalami depresi. Depresi dapat menimpa siapa saja.
Depresi memiliki berbagai tingkat keparahan. Anda bisa memiliki depresi ringan yang berlangsung beberapa minggu atau bulan, tetapi masih memungkinkan Anda untuk menjalani hidup normal. Depresi berat membuat Anda tidak dapat menjalani hidup normal dan bahkan ingin melakukan bunuh diri (sekitar 5-15% penderita depresi berkecenderungan bunuh diri). Episode depresi dapat berlangsung hanya sekali, berulang-ulang atau berjangka panjang sehingga membutuhkan pengobatan seumur hidup.
Sampai saat ini tidak ada tes darah atau alat diagnosis seperti CT scan, dll yang bisa membantu diagnosis apakah Anda mengidap depresi atau tidak. Kuesioner tertentu seperti yang dapat Anda selesaikan sendiri di sini, dapat menjadi indikasi awal apakah Anda sedang depresi. Bila Anda merasa perlu bantuan, segeralah berkonsultasi dengan psikater. Depresi adalah penyakit yang dapat disembuhkan, semakin awal mengatasinya semakin baik peluangnya.
Menyadari situasi kejiwaan Anda dan mendapatkan bantuan kejiwaan yang tepat dapat membantu Anda menghindari bahaya depresi. Namun kadang-kadang, seperti dalam kasus Robin Williams, bahkan bantuan apa pun tidak cukup apabila kontrol diri tidak dapat mengalahkan dorongan kuat dari depresi untuk melakukan bunuh diri.

Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar